Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) memeriksa prototipe ruang sterilisasi ciptaan IT Telkom Surabaya pesanannya di Halaman Rumah Dinas Walikota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (21/3/2020).

30 Maret 2020
Redaksi
1419

Bukan dari Alkohol dan Klorin, Surabaya Lanjutkan Penggunaan Bilik Disinfeksi

Pusakanews.Net-  Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, melanjutkan penggunaan bilik disinfeksi untuk mengurangi potensi penyebaran Covid-19. Sejumlah pihak menilai penggunaannya tidak berbahaya karena bahannya dari benzalkonium chloride, bukan alkohol atau klorin yang tidak sesuai rekomendasi Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

“Bilik disinfeksi tetap dilanjutkan karena pembuatan dan penggunaanya dikontrol ketat oleh para ahli agar tetap aman dan sesuai ketentuan,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Senin (30/3/2020).

Sejak dua pekan lalu, Pemkot Surabaya mulai memasang bilik disinfeksi di bandara, terminal, stasiun, dan pelabuhan. Bilik disinfeksi juga dipasang di pasar, pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan, serta rumah sakit. Saat ini, ada lebih dari 90 unit bilik disinfeksi dan jumlahnya akan terus ditambah.

Risma mengatakan, cairan disinfeksi dalam bilik disinfeksi di Surabaya terbuat dari bahan benzalkonium chloride, bukan alkohol atau klorin. Zat ini bermanfaat untuk menghambat dan membunuh pertumbuhan mikroorganisme serta mencegah terjadinya pencemaran bakteri atau virus penyebab infeksi.

Benzalkonium chloride biasa digunakan untuk obat tetes mata, larutan pembersih mata, gel rongga mulut, spray rongga mulut, serta obat kumur. Pembuatannya dilakukan oleh para ahli agar tidak membahayakan penggunanya.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia Memposting Himbauan melalui akun twitternya @WHOIndonesia pada Minggu (29/3/2020)

 

Menurut WHO, menyemprotkan alkohol atau klorin pada tubuh seseorang tidak akan membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh. Menyemprot bahan-bahan seperti itu dapat membahayakan jika terkena pakaian atau selaput lendir, seperti mata dan mulut. WHO mengingatkan bahwa alkohol dan klorin bisa digunakan sebagai disinfektan, namun harus digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan.

Pengajar Departemen Farmasetika, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga Surabaya, Retno Sari, mengatakan, benzalkonium chloride merupakan kelompok senyawa ammonium quarterner yang bersifat surfaktan yang hanya akan mempengaruhi permukaan.

Dia mencontohkan, salah satu bahan yang surfaktan yakni sabun atau sampo. Ketika mencuci tangan menggunakan sabun, senyawa ammonium quarterner akan membunuh virus yang ada di permukaan kulit. Hal ini juga berlaku ketika memasuki bilik disinfeksi.

“Soal kekhawatiran masyarakat terkait penggunaan bilik disinfeksi tidak perlu diragukan lagi. Cairan desinfeksi yang dipakai aman dan sesuai dengan takaran," ujarnya.

Guru Besar Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Fredy Kurniawan, menambahkan, WHO tidak merekomendasikan cairan seperti etanol, chlorine, dan H2O2 pada bilik sterilisasi karena bersifat karsinogenik yang bisa mengakibatkan mutasi bakteri. Namun, ada dua senyawa yang aman digunakan, yaitu ozon dan benzalkonium chloride seperti yang digunakan oleh Pemkot Surabaya.

Penelitian menunjukkan apabila benzalkonium chloride terhirup pada jangka yang pendek masih tetap aman bagi tubuh. Selama tidak melebihi batas konsentrasi sampai 0,3 ppm selama 15 menit, tidak akan menyebabkan kematian ataupun tanda-tanda adanya gangguan kesehatan.

Sedangkan untuk terapi ozon, lanjut dia, memang efektif digunakan untuk membunuh virus SARS Cov-2 yang merupakan penyebab Covid-19. Penggunaannya dinilai efektif dengan biaya yang rendah. “Batas yang bisa diterima manusia terpapar oleh ozon adalah 0,06 ppm selama 8 jam per hari untuk lima hari dalam seminggu atau 0,3 PPM maksimum untuk 15 menit,” ucap Fredy.

Editor:Omang

Tags